Langsung ke konten utama

Seni Bertahan di Kota Pelajar

Seni Bertahan di Kota Pelajar

Oleh : daisylea__

 

Semua orang pasti pernah mendengar kota pelajar, bahkan tak jarang dari kita yang ingin menetap dan menuntut ilmu di sana. Yap, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota dengan segudang wisata nan menarik mata. Wah.. jangan sampai terlena, hehehe.

Kota Yogyakarta memang menyimpan banyak keistimewaan. Salah satunya adalah Keraton Yogyakarta. Tempat ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Selain banyaknya ilmu tentang kebudayaan, Keraton Yogyakarta selalu mempersembahkan pagelaran yang cukup menyita perhatian.

Menuntut ilmu di kota pelajar merupakan pilihan. Banyak orang yang ingin mengadu nasib di kota ini. Selain itu, siswa juga ikut berbondong-bondong ingin melanjutkan bangku perkuliahan di kota pelajar.

Lalu, bagaimana cara kita bertahan di kota pelajar? Pertanyaan ini acap kali ditanyakan untuk orang-orang perantau pertama kali. Namun, jangan berkecil hati. Gaya hidup tinggi itu sebanding dengan ilmu yang kita dapatkan selama menetap di kota ini. Cukup, kita belajar dengan berhemat diri dan memulai hidup mandiri.

Lalu, bagaimana dengan menyikapi rasa keinginan atau jiwa konsumtif? Tenang, teman-teman tidak usah takut dengan masalah ini. Jika kalian seorang mahasiswa, kalian bisa cari kerja sampingan untuk membeli keinginan itu. Namun, jika kalian pekerja, kalian bisa membeli dengan gajimu sendiri. Tetapi, perlu diingat tindakanmu sekarang mempengaruhi hari esok. Pastikan, barang yang kamu beli tidak akan mempengaruhi hidupmu secara berkelanjutan.

Saran saya untukmu, para perantauan. Hitung lagi pengeluaranmu, pastikan keinginanmu tidak melebihi kemampuanmu, cobalah mulai sekarang untuk menabung uang-uangmu. Percayalah hidup sederhana tak seburuk itu. :)

Semangat :)

@ayuambarwati___

Klaten, 14 Juni 2020

#hidupmandiriyuk

#semangatmenabung

#MujahidahWriter

#InspiratorMuslimah


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sukma Pasti Kembali

Sukma Pasti Kembali Oleh: @daisylea__ Raga punya rasa lelah. Sudah menjadi kewajiban bagi raga untuk kembali kepada sang Pencipta.  Lantas, bagaimana dengan Sukma? Mengikhlaskan atau merindukan? Keduanya sama-sama memiliki makna yang mendalam. Sama-sama berat untuk dilaksanakan. Tak jarang orang-orang juga lemah dalam menghadapi kematian, kehilangan, dan mengikhlaskan. Ada rasa pilu, sesak, bahkan terluka. Tetapi, memang seperti itulah fase kehidupan manusia. Berawal kematian dan berakhir kematian.  Tak perlu seperti itu, aku percaya kamu mampu. Mengatakan memanglah lebih mudah dari melaksanakan. Akan tetapi, suatu pemikiran baru bisa mempengaruhi perilaku.  Mencoba terbuka kembali. Perbaiki lukamu. Hatimu perlu kebahagiaan untuk menjalani guncangan bumi.  Yakinlah, bahwa dirimu akan bersama dengannya di alam abadi. Hatimu dan seluruh ummat in Syaa Allah akan menggema di angkasa. Bertemu kembali di Jannah-Nya. Kekal abadi menyerukan kebahagiaan yang pernah tertahan w...

Mengabdikan Raga Demi Bumi Pertiwi

Mengabdikan Raga Demi Bumi Pertiwi Oleh: @daisylea__ Kaya nan permai layaknya memadu kasih. Alam bak surga, memanjakan pandangan. Hamparan lautan yang membentang memberikan kerinduan yang sangat mendalam.  Semesta elok, milik Nusantara. Hati memandang takjub. Kekayaan melimpah ruah tiada tara. Allah berikan secara percuma untuk negeri tercinta.  "Sudahkah, kau mensyukuri nikmat ini?" Layaknya TNI Polri yang mengabdikan diri demi bumi pertiwi. Raga ini juga turut andil dalam melestarikan budaya yang dimiliki. Memperkaya ilmu pengetahuan dalam mengembangkan teknologi, seolah menjadi kewajiban bagi penerus generasi.  Semangat untuk penerus bangsa. Perkembanganmu sangat dibutuhkan oleh negara. Mengoptimalkan kekayaan alam menjadi prioritas masa depan. Pengembangan sumber daya manusia seolah selaras dengan keadaan.  Majulah wahai, penerus kebanggaan. Ukirlah namamu sebagai ajang peradaban. Percayalah, bahwa dirimu akan menang. Ayu Ambarwati Kusumaningtyas Klaten, 29 Juli ...

Penggemar dalam Diam

Penggemar dalam Diam Oleh: @daisylea__ Sebatas sewajarnya saja. Mengagumi ciptaan Rabb-Nya memang tak salah. Namun bisa dipahami setiap perjalanan membutuhkan waktu yang lama untuk memahami seseorang. Bisa dikatakan baik buruknya pengaruh yang signifikan dapat memberikan dampak pada pola pikir orang.  Tak ingin pemikiran buruk. Namun, ingin mengingatkan pemikiran kebaikan. Mengajak ke perkara yang memberikan pahala yang melimpah. Pentingnya memilih perbuatan menentukan jalan terbaik untuk menunaikan rangkaian kebaikan. Menyaring kembali budaya-budaya yang memasuki raga agar tak terjerumus ke dalam kemungkaran.  Dalam menyederhanakan makna kata budaya berupa kebiasaan baik buruk dalam lingkup sempit maupun luas. Konsep ini yang menjadi pondasi seseorang agar tak terpengaruh oleh kesenangan semata. Perlu dikaji ulang manfaatnya agar tidak sia-sia dalam menerima berbagai budaya. Layaknya kami, ummat muslim yang mengidolakan Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu  'Alaihi Wa...