Langsung ke konten utama

Malam Kemenangan Kali Ini

Malam Kemenangan Kali Ini
Oleh: @daisylea__

Aku merindukanmu. Raga yang dulu tak pernah absen untuk menasehatiku. Kini, aku kehilangan sosok itu. 

Semesta memisahkan kami sementara. Tetapi, rasa itu akan teramat sakit, kala diri ini merindukannya. 

Tembusan rindu selalu berakhir dengan doa. Doa yang mewakili hati untuk mempermudah hisab amalnya.

Kematian, siapa yang menduga? Kehilangan, siapa yang mau? Takdirmu dan jalan hidupnya berbeda. 

Sekali lagi, hanya doa yang mempermudah jalannya.

Kamu menyayanginya? Begitu, juga keluarga. Rasa sayangnya tak akan pernah putus sedetik pun. Bahkan posisinya, tak akan pernah tergantikan.

Terima kasih, atas waktunya. Waktu yang telah tersempatkan.

Berbahagialah di alam yang berbeda. Kuharap kita sekeluarga dapat berkumpul kembali di surga-Nya. 

Ayu Ambarwati Kusumaningtyas
Klaten, 30 Juli 2020

#MujahidahWriter
#InspiratorMuslimah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sukma Pasti Kembali

Sukma Pasti Kembali Oleh: @daisylea__ Raga punya rasa lelah. Sudah menjadi kewajiban bagi raga untuk kembali kepada sang Pencipta.  Lantas, bagaimana dengan Sukma? Mengikhlaskan atau merindukan? Keduanya sama-sama memiliki makna yang mendalam. Sama-sama berat untuk dilaksanakan. Tak jarang orang-orang juga lemah dalam menghadapi kematian, kehilangan, dan mengikhlaskan. Ada rasa pilu, sesak, bahkan terluka. Tetapi, memang seperti itulah fase kehidupan manusia. Berawal kematian dan berakhir kematian.  Tak perlu seperti itu, aku percaya kamu mampu. Mengatakan memanglah lebih mudah dari melaksanakan. Akan tetapi, suatu pemikiran baru bisa mempengaruhi perilaku.  Mencoba terbuka kembali. Perbaiki lukamu. Hatimu perlu kebahagiaan untuk menjalani guncangan bumi.  Yakinlah, bahwa dirimu akan bersama dengannya di alam abadi. Hatimu dan seluruh ummat in Syaa Allah akan menggema di angkasa. Bertemu kembali di Jannah-Nya. Kekal abadi menyerukan kebahagiaan yang pernah tertahan w...

Mengabdikan Raga Demi Bumi Pertiwi

Mengabdikan Raga Demi Bumi Pertiwi Oleh: @daisylea__ Kaya nan permai layaknya memadu kasih. Alam bak surga, memanjakan pandangan. Hamparan lautan yang membentang memberikan kerinduan yang sangat mendalam.  Semesta elok, milik Nusantara. Hati memandang takjub. Kekayaan melimpah ruah tiada tara. Allah berikan secara percuma untuk negeri tercinta.  "Sudahkah, kau mensyukuri nikmat ini?" Layaknya TNI Polri yang mengabdikan diri demi bumi pertiwi. Raga ini juga turut andil dalam melestarikan budaya yang dimiliki. Memperkaya ilmu pengetahuan dalam mengembangkan teknologi, seolah menjadi kewajiban bagi penerus generasi.  Semangat untuk penerus bangsa. Perkembanganmu sangat dibutuhkan oleh negara. Mengoptimalkan kekayaan alam menjadi prioritas masa depan. Pengembangan sumber daya manusia seolah selaras dengan keadaan.  Majulah wahai, penerus kebanggaan. Ukirlah namamu sebagai ajang peradaban. Percayalah, bahwa dirimu akan menang. Ayu Ambarwati Kusumaningtyas Klaten, 29 Juli ...

Penggemar dalam Diam

Penggemar dalam Diam Oleh: @daisylea__ Sebatas sewajarnya saja. Mengagumi ciptaan Rabb-Nya memang tak salah. Namun bisa dipahami setiap perjalanan membutuhkan waktu yang lama untuk memahami seseorang. Bisa dikatakan baik buruknya pengaruh yang signifikan dapat memberikan dampak pada pola pikir orang.  Tak ingin pemikiran buruk. Namun, ingin mengingatkan pemikiran kebaikan. Mengajak ke perkara yang memberikan pahala yang melimpah. Pentingnya memilih perbuatan menentukan jalan terbaik untuk menunaikan rangkaian kebaikan. Menyaring kembali budaya-budaya yang memasuki raga agar tak terjerumus ke dalam kemungkaran.  Dalam menyederhanakan makna kata budaya berupa kebiasaan baik buruk dalam lingkup sempit maupun luas. Konsep ini yang menjadi pondasi seseorang agar tak terpengaruh oleh kesenangan semata. Perlu dikaji ulang manfaatnya agar tidak sia-sia dalam menerima berbagai budaya. Layaknya kami, ummat muslim yang mengidolakan Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu  'Alaihi Wa...