Langsung ke konten utama

Meramu Awal yang Baru

Meramu Awal yang Baru

Oleh: @daisylea__

 

Dari lingkungan kita banyak belajar. Bahwa segi bersosialisasi juga memiliki dampak baik maupun buruk. Salah satunya dalam beradaptasi. Ketika teman-teman dipertemukan dengan lingkungan yang baru sosok kriteria yang kita idamkan justru menginginkan hal-hal yang baik, bukan?

 

Lalu, bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya? Teman-teman mau menyerah ditengah jalan atau justru melawan arus dan memberikan perubahan? Itu adalah sikap yang harus teman-teman tunjukkan.

 

Mungkin banyak dari kalian yang menginginkan bertahan lalu memberikan perubahan. Namun, nyatanya kalimat itu tak semudah yang kalian ungkapkan. Butuh proses yang cukup panjang dan usaha yang keras untuk menunjukkan bahwa sikap yang kalian pilih adalah yang benar. 

 

Percayalah, selalu ada hikmah dibalik perjuangan kalian. 

 

Awal yang baru mungkin bukan solusi, tapi ini adalah jalan yang harus kalian ditempuh. Bahwa dirimu masih berjuang, namun dengan caramu sendiri. Cara ini sangat bagus untukmu yang berjuang dalam kegelapan. 

 

Kalian tunjukkan bahwa semua ini bukan akhir dari sebuah perjalanan. Tetapi, awal dari perubahan. 

 

Yang penting dan perlu diingat bahwa setiap perjuanganmu tak lepas dari peran sang pemberi cahaya. Sang penerang dalam kegelapan. Bahkan disaat semangatmu redup nikmat-Nya selalu mengalir, bak air sungai yang tak pernah kering.

 

Maka, bersyukurlah disaat dirimu patah semangat masih ada Rabb yang menemanimu dalam memperjuangkan perubahan. Tak lepas juga do'a orang tua yang selalu menyertai kita dalam menggapai impian. Mungkin inilah yang dinamakan Ridho Allah ada pada Ridho Orang tua. Nyatanya hidup akan selalu selaras dengan rasa sayang kita terhadap orang tua.

 

Jangan pernah lupakan, perannya dalam hidupmu. Entah, Rabb-mu atau pun beliau yang pasti mereka ingin yang terbaik untukmu.

 

Ayu Ambarwati Kusumaningtyas

Klaten, 9 Agustus 2020

 

#InspiratorMuslimah

#MujahidahWriter

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sukma Pasti Kembali

Sukma Pasti Kembali Oleh: @daisylea__ Raga punya rasa lelah. Sudah menjadi kewajiban bagi raga untuk kembali kepada sang Pencipta.  Lantas, bagaimana dengan Sukma? Mengikhlaskan atau merindukan? Keduanya sama-sama memiliki makna yang mendalam. Sama-sama berat untuk dilaksanakan. Tak jarang orang-orang juga lemah dalam menghadapi kematian, kehilangan, dan mengikhlaskan. Ada rasa pilu, sesak, bahkan terluka. Tetapi, memang seperti itulah fase kehidupan manusia. Berawal kematian dan berakhir kematian.  Tak perlu seperti itu, aku percaya kamu mampu. Mengatakan memanglah lebih mudah dari melaksanakan. Akan tetapi, suatu pemikiran baru bisa mempengaruhi perilaku.  Mencoba terbuka kembali. Perbaiki lukamu. Hatimu perlu kebahagiaan untuk menjalani guncangan bumi.  Yakinlah, bahwa dirimu akan bersama dengannya di alam abadi. Hatimu dan seluruh ummat in Syaa Allah akan menggema di angkasa. Bertemu kembali di Jannah-Nya. Kekal abadi menyerukan kebahagiaan yang pernah tertahan w...

Mengabdikan Raga Demi Bumi Pertiwi

Mengabdikan Raga Demi Bumi Pertiwi Oleh: @daisylea__ Kaya nan permai layaknya memadu kasih. Alam bak surga, memanjakan pandangan. Hamparan lautan yang membentang memberikan kerinduan yang sangat mendalam.  Semesta elok, milik Nusantara. Hati memandang takjub. Kekayaan melimpah ruah tiada tara. Allah berikan secara percuma untuk negeri tercinta.  "Sudahkah, kau mensyukuri nikmat ini?" Layaknya TNI Polri yang mengabdikan diri demi bumi pertiwi. Raga ini juga turut andil dalam melestarikan budaya yang dimiliki. Memperkaya ilmu pengetahuan dalam mengembangkan teknologi, seolah menjadi kewajiban bagi penerus generasi.  Semangat untuk penerus bangsa. Perkembanganmu sangat dibutuhkan oleh negara. Mengoptimalkan kekayaan alam menjadi prioritas masa depan. Pengembangan sumber daya manusia seolah selaras dengan keadaan.  Majulah wahai, penerus kebanggaan. Ukirlah namamu sebagai ajang peradaban. Percayalah, bahwa dirimu akan menang. Ayu Ambarwati Kusumaningtyas Klaten, 29 Juli ...

Penggemar dalam Diam

Penggemar dalam Diam Oleh: @daisylea__ Sebatas sewajarnya saja. Mengagumi ciptaan Rabb-Nya memang tak salah. Namun bisa dipahami setiap perjalanan membutuhkan waktu yang lama untuk memahami seseorang. Bisa dikatakan baik buruknya pengaruh yang signifikan dapat memberikan dampak pada pola pikir orang.  Tak ingin pemikiran buruk. Namun, ingin mengingatkan pemikiran kebaikan. Mengajak ke perkara yang memberikan pahala yang melimpah. Pentingnya memilih perbuatan menentukan jalan terbaik untuk menunaikan rangkaian kebaikan. Menyaring kembali budaya-budaya yang memasuki raga agar tak terjerumus ke dalam kemungkaran.  Dalam menyederhanakan makna kata budaya berupa kebiasaan baik buruk dalam lingkup sempit maupun luas. Konsep ini yang menjadi pondasi seseorang agar tak terpengaruh oleh kesenangan semata. Perlu dikaji ulang manfaatnya agar tidak sia-sia dalam menerima berbagai budaya. Layaknya kami, ummat muslim yang mengidolakan Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu  'Alaihi Wa...